AKHLAQ MUKMININ WA MUKMINAT [3/3]

•24 April, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah

Disalin dari kitabAkhlaqul Mukminin wa Mukminat

Salah satu upaya untuk menjaga shalat fajar tepat pada waktunya dan melaksanakannya secara berjamaah, maka hendaklah seseorang bersegera untuk tidur dan tidak begadang terlalu malam.

Adalah Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam membenci tidur sebelum Isyak dan ngobrol sesudahnya.

Disyariatkan bagi mukminin dan mukminat mencurahkan segala kemampuannya untuk menjaga shalat agar tepat pada waktunya tidak begadang setelah Isyak, karena hal itu terkadang menjadikan seseorang ketiduran –ketinggalan Shalat Fajar–. Seyogyanyalah pada saat-saat yang perlu dicermati ini kita saling tolong menolong agar bisa melaksanakannya. Sebagaimana layaknya tolong menolong antar anggota keluarga dalam menunaikan urusan shalat Fajar ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Q.S. Al-Maidah : 2)

“Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Q.S. Al-Ashr : 1-3).

Wajib bagi kaum muslimin saling memberi nasehat dan berwasiat tentang kebenaran, tolong menolong dalam kebaikan, dan amar ma’ruf nahi mungkar sebelum terjadinya hukuman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Telah ada hadist shahih dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam berkenan dengan perkara tersebut :

“Artinya : Sesungguhnya manusia, apabila melihat kemungkaran dan tidak berupaya untuk merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menyegerakan hukuman bagi mereke secara umum”.

“Artinya : Ad-dien itu adalah nasihat, ad-dien itu adalah nasihat, ad-dien itu adalah nasihat’. (Nasihat artinya sucinya hati atau ikhlas). Maka bertanyalah sahabat, ‘Untuk siapa Ya Rasulullah ?’. Nabi menjawab : ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan Imam-imam kaum muslimin, serta kaum muslimin semuanya”.

Berkata Jarir bin Abdullah Al-Bajaliy Radhiyallahu anhu.

“Artinya : Aku membai’at Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam untuk menegakan shalat, menunaikan zakat dan nasehat untuk setiap muslim”.

Disyari’atkan bagi setiap muslim manakala mendengar ajaran yang berfaedah agar menyampaikannya kepada yang lain, demikian pula muslimat agar supaya menyampaikan kepada yang lain, manakala mendengar ilmu yang bermanfaat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi, “Sampaikan ajaran dariku sekalipun  hanya satu ayat”.

Adalah Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam manakala berkhotbah di hadapan manusia beliau bersabda : “Hendaklah orang yang menyaksikan (hadir) menyampaikan kepada yang tidak hadir, adakalanya seorang penyampai ajaran (mubaligh) tidak lebih menguasai dari yang sekedar mendengar”.

Sabdanya lagi :

“Artinya : Barangsiapa meniti jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan permudah baginya jalan menuju jannah”.

Termasuk dalam hadits ini adalah, bagi siapa saja yang datang ke masjid, atau tempat yang terdapat disana halaqah ilmu dan pengajaran ilmu yang bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kabaikan, maka Allah fahamkan dia terhadap agama.

Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Allah pasti melihat dengan kasih sayang-Nya terhadap seseorang yang mendengar perkataanku (Nabi), lalu meresponnya dengan baik kemudian melaksanakannya sebagaimana yang di dengar, adakalanya pembicara (mubaligh) itu lebih pandai daripada pendengar adakalanya mubaligh itu menyampaikan kepada yang lebih pandai darinya”.

“Artinya : Tidalah suatu kaum itu berkumpul di rumah-rumah Allah, kemudian mereka membaca kitabullah dan saling mengajarkan di antara mereka kecuali rasa tenang akan turun kepada mereka, mereka akan Allah dengan rahmat dan akan dikelilingi Malaikat serta mereka diingat Allah tentang apa-apa yang ada di sisi-Nya”.

Ini menunjukkan disyariatkannya berlomba dalam halaqah ilmu, menaruh perhatian besar terhadapnya, dan tamak untuk berkumpul dalam rangka tilawatul qur’an dan saling mengajarkannya.

Diantaranya ialah mendengarkan acara-acara keagamaan, penyampaian hadits-hadits yang bermanfaat, penyiaran tilawah qur’an yang dipandu oleh mereka yang dipandang mampu dalam bidang ilmu agama dan bashirah (hujjah) serta kebaikan aqidah.

Sebagaimana sudah dimaklumi, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah, sudah semestinya dilakukan berdasarkan ilmu. Manusia tidak akan mengerti hakekat ibadah yang telah dibebankan kepadanya kecuali dengan belajar dan mendalami agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56).

Ibadah yang bagaimanakah yang diwajibkan kepada kita untuk mempelajari dan mempelajarinya ? Yaitu segala sesuatu yang disyari’atkan Allah dan dicintainya untuk dilakukan hamba-Nya, seperti shalat, zakat, shiyam dan selainnya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan orang-orang yang membayar zakat”.

Zakat adalah haqqul mal, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat dari sebagian hartanya kepada yang berhak menerima. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan bagi pembayar zakat agar ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berharap pahala-Nya serta takut terhadap hukumanNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin”. (Q.S. At-taubah : 60).

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala melanjutkan firman-Nya :

“Artinya : Mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya”.

Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan shalat, zakat, loyalitas diantara kaum mukmin, amar ma’ruf nahi mungkar, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya”.

Yaitu, (taat) dalam segala sesuatu, seperti taat dalam masalah amar ma’ruf nahi mungkar, shalat dan zakat. Pendek kata, mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala hal.

Demikian sifat mukminin dan mukminat, yaitu mereka selalu mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya dimanapun mereka berada. Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan ketaatan yang utuh kepada-Nya.

 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat karunia Allah”.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwasanya orang-orang yang istiqamah dalam agamanya, menunaikan kewajiban terhadap Allah, mentaati-Nya dan mentaati Rasulullah Shallallahu’alayhi wa alihi wasallam, mereka itulah yang berhak mendapat karunia di dunia dan di akhirat karena ketaatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, keimanan dengan-Nya serta pelaksanaan kewajiban terhadap-Nya.

Hal itu juga menunjukkan bahwa sesungguhnya bagi orang yang berpaling, lalai dan orang-orang yang mengabaikan kewajiban, maka bagi mereka sama halnya dengan menyodorkan dirinya untuk di adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dimurkai-Nya.

Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa diperoleh dengan amal shalih dan kesungguhan dalam mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menegakkan perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berpaling serta mengikuti hawa nafsu atau setan, maka baginya naar pada hari kiamat.

 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Adapun orang-orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya narlah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya janahlah tempata tinggal(nya)”. (Q.S. An-Naziat : 38-41).

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Asma’ul Husna-Nya dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kita dan segenap kaum muslimin kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki hati kita dan amal kita sekalian, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rezeki berupa kemampuan melaksanakan Tawashau bil haq dan  tawashau bish shabr, tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, mengutamakan akhirat atas dunia, mempunyai keinginan untuk tetap memiliki keselamatan hati dan amal, ambisi untuk bermanfaat bagi kaum muslimin di manapun mereka berada.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga Dia memenangkan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, membimbing para pemimpin kaum muslimin keseluruhan, memperbaiki hati dan amal mereka, memberi mereka pemahaman agama dan kelapangan hati untuk berhukum dan memutuskan perkara dengan syari’at-Nya, tetap istiqamah di jalan-Nya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melindungi kita dan seluruh kaum muslimin di segala penjuru dari berbagai macam fitnah dan ujian, menghinakan musuh-musuh Islam di manapun mereka berada, membatasi ruang lingkup kekuasaan mereka, serta menolong ikhwan-ikhwan kita para mujahidin fie sabilillah di setiap tempat. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pemimpin kaum muslimin dan Maha Kuasa atasnya.

Wa shalallahu wasallam ‘ala nabiyina Muhammadin wa alihi shahbihi ajma’iin.

AKHLAQ MUKMININ WA MUKMINAT [2/3]

•24 April, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah

Disalin dari kitabAkhlaqul Mukminin wa Mukminat

Selayaknya, seorang mukmin dan mukminah senantiasa memperhatikan timing yang tepat dalam beramar ma’ruf nahi mungkar. Janganlah berputus asa apabila ditolak pada hari itu. Sebab bisa jadi akan diterima besok lusa. Seorang mukmin dan mukminah janganlah berputus asa dalam mengingkari kemungkaran, tetapi hendaklah terus menerus dilakukannya. Hendaklah selalu menegakkan amar ma’ruf dan an-nasihah untuk hamba-Nya disertai dengan husnudhan dan mengharap besarnya pahala yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Mereka menegakkan shalat dan membayar zakat“.

Demikianlah karakteristik mukminin dan mukminat, mereka selalu menegakkan shalat dan menjaga ketetapan waktunya. Bagi laki-laki melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah bersama para ikhwan yang lain. Mereka bergegas menuju masjid tatkala mendengar muadzin berseru : “Hayya ‘alash shalaah hayya ‘alal-falaah“. Mendengar serua muadzin itu mereka akan bersegera ke masjid di setiap saat.

Menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam meninggalkan shalat berjamaah, serta berhati-hati terhadap musibah yang banyak menimpa manusia (musibah tidak shalat berjamaah). Berlindunglah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari akibat shalat di rumah dan ketinggalan shalat di masjid. Keadaan mereka nyaris menyerupai keadaan kaum munafik. Ia melaksanakan shalat farhdu di rumah, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakan kesehatan kepadanya, barangkali juga ia mengakhirkan shalat Shubuh hingga terbitnya matahari, bahkan sampai waktu ia akan berangkat kerja baru melaksanakan shalat Shubuh, atau bahkan ia tinggalkan shalat sama sekali. Ini adalah musibah yang besar dan kemungkaran yang membahayakan, karena shalat adalah tiangnya Islam. Barangsiapa menjaga berarti menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya tentulah ia akan lebih menyia-nyiakan hal yang lain, barangsiapa meninggalkannya maka termasuk kafir. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam berikut :

” Artinya : Perjanjian yang mengikat antara kita dengan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka telah kafir“.

Kafirnya orang yang meninggalkan shalat adalah berlaku umum bagi laki-laki dan juga wanita. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam lebih menegaskan lagi dalam sabdanya :

“Artinya : Batas antara seseorang (mukmin) dengan kekafiran atau kemusyrikan adalah meninggalkan shalat“.

Tidak dibenarkan bagi mukminin dan mukminat meremehkan perkara shalat. Bagi laki-laki, tidak boleh menunaikan shalat di rumah dengan meninggalkan jamaah di masjid, bahkan menjadi kewajiban bagi laki-laki untuk menunaikannya di masjid.

 Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur“.

Telah datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam seorang laki-laki lalu berkata : “Ya Rasulullah, saya seorang yang buta, saya tidak mempunyai penunjuk jalan yang dapat menghantarkan saya ke masjid, apakah ada keringanan bagi saya untuk shalat di rumah ?” Nabi bersabda : “apakah Anda mendengar  panggilan adzan untuk shalat ?” Dia menjawab : “Saya mendengar”. Nabi bersabda : “Datangilah panggilan adzan itu”.

Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam tidak memberi rukhsah (keringanan) bagi laki-laki tadi padahal sesungguhnya dia buta, dia tidak memiliki seorang penunjuk jalan yang membimbingnya ke masjid. Bagaimana dengan laki-laki yang keadaan penglihatannya sehat ?!!.

Telah dikuatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam tentang keharusan mendatangi shalat jamaah di masjid dengan sabdanya :

“Artinya : Sungguh aku ingin sekali perintahkan segera ditunaikannya iqamat untuk shalat dan akan aku perintahkan di antara kalian agar salah seorang mengimami shalat, di saat itulah aku ingin pergi bersama para laki-laki yang sudah siap dengan kayu bakar, menuju rumah kaum lelaki yang tidak shalat berjamaah dan akan aku bakar rumah-rumah mereka”.

Hal ini menunjukkan besarnya perintah tersebut, maka wajiblah bagi kaum muslimin memperhatikan shalat jamaah dan untuk bersegera mendatangi masjid setiap kali mendengar adzan. Waspadalah dari rasa malas dan berat hati melaksanakan shalat jamaah, sebab keduanya adalah merupakan sifat-sifat orang munafik. Na’udzubillah kita berlindung kepada Allah dari sifat-sifat mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali”. (Q.S. An-Nisaa’ : 142).

Wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikan masalah shalat karena shalat adalah pilar penyangga Islam, shalat merupakan rukun Islam terbesar setelah dua kalimat syahadat, barangsiapa menjaganya berarti telah menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya berarti menyia-nyiakan agamanya. –Wala haula wala quwwata illa billah–. Barangsiapa menjaga shalatnya, menegakkannya dengan khusyuk dan tidak mendahului imam, maka mereka mendapat kebahagiaan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya”. (Q.S. Al-Mukminun : 1-2).

Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Seburuk-buruk pencurian yang terjadi pada manusia adalah ; ‘manusia yang mencuri dalam shalatnya’. Sahabat bertanya : ‘Bagaimana terjadi pencurian dalam shalat ?’. Nabi Menjawab: ‘Shalat yang tidak sempurna rukuknya atau sujudnya”.

etika Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang buruk dalam melakukan shalat, yaitu dengan tidak menyempurnakan rukuknya atau sujudnya, maka Nabi memerintahkan laki-laki tersebut agar mengulangi lagi shalatnya.

Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Apabila engkau menunaikan shalat, maka sempurnakanlah wudlu, kemudian menghadaplah qiblat, kemudian bertakbirlah, bacalah apa yang mudah bagimu dari sebagian surat Al-Qur’an, rukuklah hingga sempurna rukukmu (tumakninah) kemudian beridirilah hingga lurus tegak, kemudian sujudlah hingga tumakninah sujudmu, kemudian angkatlah kepalamu dari sujud hingga engkau tumakninah dudukmu, kemudian sujudlah hingga tumakninah sujudmu dan kemudian lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu”.

Kebanyakan manusia melakukan shalat dengan mematuk (gerakan terlalu cepat seperti ayam mematuk makanan). Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan itu adalah mungkar. Barangsiapa melakukan shalat dengan mematuk maka batal-lah shalatnya berdasarkan hadits tersebut diatas.

Shalat wajib dilakukan secara tumakninah dalam hal rukuk, sujud, i’tidal setelah rukuk, antara dua sujud dan berhati-hati untuk tidak mendahului imam. Apabila imam bertakbir janganlah segera langsung takbir tapi tunggulah hingga suara takbir imam selesai. Apabila imam berseru “Allahu Akbar” untuk rukuk maka janganlah langsung  rukuk, tunggulah hingga imam lurus rukuknya dan berhenti, setelah itu lakukan rukuk. Demikianlah pula dalam sujud, janganlah mendahului imam, jangan pula bersamaan dengan imam, tidak boleh bersamaan dengan imam tidak boleh pula mendahului imam.

 Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Sesungguhnya aku adalah imam kalian maka janganlah kalian mendahuluiku dalam rukuk dan sujud, ketika berdiri atau ketika mengakhiri shalat”

“Artinya : Sesungguhnya seseorang itu diangkat menjadi imam  untuk diikuti maka janganlah kalian menyelisihinya, apabila imam takbir ikutilah kalian takbir dan janganlah kalian takbir hingga imam terlebih dahulu takbir dan apabila imam rukuk maka rukuklah kalian dan janganlah kalian rukuk hingga imam terlebih dahulu rukuk, apabila imam mengucap ‘Sami ‘allahu liman hamidah’ berucaplah, ‘Rabbana wa lakal hamdu’. Apabila imam sujud maka sujudlah dan janganlah kalian sujud hingga imam terlebih dahulu sujud”.

 Perkara ini sesungguhnya telah jelas –bagi setiap yang ingin melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Allah– akan tetapi sebagian manusia tidak sabar melakukannya, mereka cenderung bersegera dan mendahului imam dalam gerakan shalat –Wal iyadu billah– Wajiblah bagi kita untuk mewaspadai hal itu.

PUJIAN ULAMA TERHADAP SYAIKH RABI’

•7 April, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

بسم الله الرحمن الرحيمبسم الله الرحمن الرحيم

Pujian dan Pembelaan ‘Ulama terhadap Syaikh Rabi’ bin Hadi Umair Al Madkhali - حفظهم الله -

Beberapa diantaranya:

1. Fadhilatus Syaikh al ‘alamah Muhammad bin abdullah as Subayyil
Beliau adalah :
- Imam dan Khotib Masjid Haram Makkah
- Anggota Ha’iah Kibarul ‘Ulama
- Ketua Umum Urusan Masjidil Haram dan masjid Nabawi (tahun Lalu)

2. Fadhilatus Syaikh al ‘alamah Sholih bin Muhammad al Luhaidan
Beliau adalah:
- Ketua Majelis qodho al a’la
- Anggota Hai’ah Kibarul ‘Ulama

3. Fadhilatus Syaikh al ‘alamah Sholih bin Fauzan al Fauzan
Beliau adalah:
- Anggota Hai’ah kibarul ‘Ulama
- Anggota Lajnah Da’imah al iftah

Penjelasan Ulama tersebut dapat di download di :

http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=330494

 

NASIHAT DAN SERUAN KEPADA PASTOR / PENDETA KRISTEN

•7 April, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

“MASUKLAH KALIAN KE DALAM AGAMA ISLAM!!”
Penulis : Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Umair Al Madkhali Hafidzahullah

 

Segala puji hanyalah milik Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam, keluarga, dan shahabatnya dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du:

Banyak tersebar dan disiarkan di berbagai media cetak dan elekteronik serta stasiun-stasiun parabola bahwa Paus Vatikan Benedicktus XVI telah mencela Islam dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam, dia menuduh beliau dan risalahnya jahat serta tidak rasional! Alangkah anehnya tuduhan seperti ini, sungguh sangat mengagetkan dan bertolak belakang dengan akal sehat serta hakikat ajaran Islam yang murni. Dengan Islam Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan  manusia dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya, dan dari sikap ekstrem ajaran-ajaran  non Islam  kepada keadilan Islam, yang mana ini semua diakui oleh mereka yang masih berakal dari musuh-musuh Islam sendiri.

Di sini saya tidak akan berpanjang lebar dalam memaparkan keunggulan-keunggulan Islam dan Nabinya ummat Islam, sesungguhnya hakikat akan hal ini telah sampai ke segala penjuru dunia dan menghiasi banyak dari perpustakaan-perpustakaan. Maka dengan ringkas saya sampaikan:

Sesungguhnya Muhammad adalah benar-benar utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala utus beliau sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, mengajak ke jalan Allah sebagai pelita yang terang benderang.

Beliau datang dengan ajaran yang menghormati para nabi dan kitab-kitab suci mereka, bahkan beliau datang dengan ajaran untuk mencintai mereka dan mengimani mereka sekaligus kitab-kitab suci mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Artinya : “Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah: 285)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memerintahkan Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam dan ummatnya,

Artinya : “Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah: 136)

 Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

Artinya : “Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”. (Q.S. Ali Imran: 84)

Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam datang membawa keadilan dan kebaikan, melarang dari perbuatan keji dan mungkar, dan perbuatan yang melampaui batas, Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (Q.S. An-Nahl: 90)

Beliau juga datang membawa ajaran jihad untuk meninggikan kalimat Allah, dan menghilangkan kekufuran, kesyirikan dan kerusakan. Dan sebelumnya Musa Alaihis Salam dan nabi-nabi dari kalangan Bani Israil sudah lebih dahulu mengajak kepada ajaran yang sama. Beliau Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam datang membawa syariat qishash dan hudud untuk melindungi keyakinan dan jiwa serta kehormatan dan harta. Dan sebelumnya Musa Alaihis Salam dan nabi-nabi dari kalangan Bani Israil sudah lebih dahulu mengajak kepada ajaran yang sama. Dan itu adalah kebaikan dan ihsan dan perlindungan terhadap kehormatan dan harta…dan guna menebarkan rasa aman dan ketentraman serta meraih kemaslahatan dan mengantisipasi kerusakan.

Dan tidak ada yang menuduh Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam dan risalahnya jahat kecuali seorang pendusta yang sangat kafir, yang telah mencela Musa dan risalahnya serta nabi-nabi yang datang setelahnya yang mana mereka semua menjalankan hukum Taurat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-oang yang kafir. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasannya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan ( hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (Q.S. Al Maidah: 44-45).

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Artinya : “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (Q.S. Al Maidah: 47)

Sungguh orang-orang Yahudi dan Nashrani telah kafir terhadap Taurat dan Injil, dan mereka tidak mengamalkan apa yang ada pada keduanya dari ajaran-ajaran akidah dan hukum-hukum. Dan mereka telah mendustakan Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam yang datang membenarkan para nabi dan kitab-kitab suci mereka, dan diantaranya Taurat dan Injil. Mereka telah kufur kepada Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam dan apa yang terkandung pada risalahnya berupa ajaran yang membenarkan para nabi seluruhnya, dan membenarkan apa yang dibawa oleh Taurat dan Injil dan apa yang ada pada keduanya berupa ajaran akidah dan hukum-hukum kecuali yang telah dihapus oleh Islam.

Mereka memeranginya dengan sengit. Dan terlebih lagi pada ulama dan rahib-rahib mereka serta pastor-pastor mereka, karena sombong, takabbur, hasad dan bersikap melampaui batas, setelah mereka selewengkan kitab-kitab suci mereka dan mempermainkan nash-nashnya dan merubah apa yang terdapat di dalamnya berupa ajaran akidah, tauhid dan iman kepada kesyirikan dan kekufuran, dan mereka menolak hukum-hukum yang terkandung di dalamnya!!

Maka apabila seperti ini sikap mereka terhadap kitab-kitab suci mereka sendiri yang mereka imani, maka tidak aneh kalau mereka kufur kepada Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam dan ajaran yang dibawa olehnya berupa Al Qur’an yang tidak mengandung kebatilan dari depan dan dari belakangnya.

Wahai ahli kitab bertaubatlah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenarnya dan ikutilah Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam yang kitab-kitab suci kalian memberitakan kabar gembira tentang kedatangannya dan juga Isa Alaihis Salam, ketika ia berkata, Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS. As-Shaff: 6).

Artinya : “Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Ali Imran: 63).

Artinya : “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan antara yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui”. (Q.S. Ali Imran: 71).

Artinya : “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Ali Imran: 99)

Wahai Paus Benedicktus pemimpin gereja Vatikan, masuklah kamu ke dalam Islam, kelak kamu akan selamat, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberimu pahala dua kali lipat. Dan apabila kamu menolak maka kamu akan menanggung dosa orang-orang yang mengikutimu dari kalangan Nashara Eropa dan luar Eropa. Masuklah kamu ke dalam Islam agar pengikutmu selamat. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkanmu ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang ia persiapkan untuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa, para pengikut rasul-rasul yang benar.

Berimanlah kamu kepada Al Qur’an yang mulia ini, kitab suci yang menaungi setiap risalah dan datang membawa akidah yang benar serta hukum-hukum yang adil yang sesuai dengan akal sehat dan fitrah yang bersih.

Berimanlah anda dan pengikut anda kepada Al Qur’an ini, kitab suci yang merupakan mukjizat yang tak tertandingi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menantang jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengannya dan mereka tidak ada yang mampu, bahkan mereka gagal untuk membuat sepuluh surat yang serupa dengan Al Qur’an, dan mereka tidak mampu membuat walau satu surat pun. Mereka tidak mampu meskipun mereka buat bersama-sama.

Dan pada kenyataan ini sendiri cukup menjadi ajakan kepada para pendeta dan pengikut mereka untuk beriman seandainya mereka masih memiliki akal dan mau berfikir dan bersikap adil. Masuklah kalian kepada Islam agar kalian selamat dan raihlah surga seluas langit dan bumi. Dan apabila kalian menolak maka bersiap-siaplah merasakan adzab yang pedih lagi kekal berupa api yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ancamkan untuk orang-orang kafir, api yang panasnya luar biasa dan neraka yang sangat dalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al Qur’an yang maha aqung dan bijaksana, Artinya :  Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala”. (Q.S. Al Insan: 4).

Dan Dia juga berfirman, Artinya : “Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan”. (Q.S. Al Muzammil: 11-14)

Wahai pastor-pastor jangan sekali-kali kalian diperdaya oleh dunia, dan jangan sekali-kali kalian diperdaya sehingga kalian meninggalkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketahuilah bahwa pendahulu-pendahulu kalian telah memanipulasi kitab-kitab suci kalian dan merusak agama kalian, dan menjadikan manusia sebagai tuhan selain Allah, dan menobatkan Isa sebagai anak Allah atau satu dari yang tiga, Maha Suci Allah dari yang mereka tuduhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, Artinya : “Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. (Q.S. Al Ikhlas: 1-3).

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam kitabnya yang mulia,

Artinya : “Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak lagi Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. (Q.S. Maryam: 89-95).

Wahai ahli kitab dan para pastor sekalian, semua rasul datang membawa ajaran tauhid, dan memerangi kesyirikan dan diantara mereka adalah Isa Alaihis Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Artinya : “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Q.S. Al Maidah: 72).

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Isa Alaihis Salam untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan Isa Alaihis Salam menegaskan bahwa Allah adalah Rabbnya dan Rabb mereka, dan ia hanyalah seorang yang diutus oleh Allah kepada mereka. Dan bahwasanya orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Artinya : “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Ilah (yang kelak berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. (Qs. Al Maidah: 73)

Maka berhentilah kalian wahai kaum Nashrani dan para pastor dari apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala peringatkan kepada kalian yaitu mempertuhankan Isa dan makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lainnya, kalau tidak maka kalian di atas kekufuran dan kesyirikan, dan balasan atas perbuatan kalian Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan atas kalian surga dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan tempat kembali kalian adalah neraka.

Jangan tertipu dengan ajaran bapak moyang kalian dan pastor-pastor kalian serta rahib-rahib kalian, sesungguhnya mereka –demi Allah- berada di atas kebatilan dan kekufuran. Mereka telah merobah isi Taurat dan Injil seperti yang telah saya sampaikan kapada kalian. Dan jangan mengira bahwa Isa Alaihis Salam akan menolong kalian atau memasukkan kalian ke dalam surga dan menyelamatkan kalian dari neraka, karena perkara ini bukan wewenangnya. Dan juga karena kalian telah mendurhakainya dan meninggalkan akidahnya akidah tauhid dan kalian telah menobatkannya sebagai tuhan dan Isa mengingkari orang yang melakukan demikian dan dia akan berlepas diri dari kalian dan dari kesesatan-kesesatan kalian dan dari perbuatan kalian menuhankannya dan ibunya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: “Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(Q.S. Al Maidah: 116-118)

Lihatlah bagaimana Isa Alaihis Salam berlepas diri dari akidah Nashrani dan keyakinan mereka yang batil tentangnya dan juga yang berkenaan dengan ibunya, bahwa mereka berdua adalah tuhan lain selain Allah. Isa Alaihis Salam menegaskan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ia tidak pernah memerintahkan manusia kecuali dengan apa yang diperintahkan oleh Rabb-nya, “Beribadahlah kalian kepada Allah Rabb ku dan Rabb kalian”. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabbnya dan Rabb bagi sekalian manusia dan mustahil Isa Alaihis Salam menobatkan dirinya dan ibunya sebagai tuhan dan mengajak manusia untuk menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila kalian mendustakan apa yang terkandung di dalam tulisan ini, dari kenyataan-kenyataan dan kalian masih berdalih dan mendebatnya, maka saya mengajak kalian untuk mubahalah seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada Nabinya yang benar dan ummi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, Artinya : “Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya):”Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”. (Q.S. Ali Imran: 61).

Dan Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam adalah tauladan bagiku dan setiap ummat Islam.

Salam sejahtera kepada mereka yang mengikuti petunjuk.

Ditulis oleh:

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Umair Al Madkhali

24 Sya’ban 1427 H


Sumber Asli (bahasa arab):

http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=338784

 

ا نصيحة ودعوة للبابوات إلى الإسلام

كتبها
الشيخ ربيع بن هادي عمير المدخلي
24/
شعبان/1427هـ
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد:
فقد أذيع وأشيع في وسائل الإعلام من إذاعات وصحف ومواقع فضائية بأن بابا الفاتيكان – بنديكت السادس عشر- قد طعن في الإسلام ورسول الله محمد عليه الصلاة والسلام ووصفه ورسالته بالشر ومجافاة العقل ! وهذا أمر عجيب ومذهل ومصادم للمنطق والعقل ولحقيقة الإسلام الناصعة ذلكم الإسلام الذي أخرج الله به البشرية من الظلمات إلى النور ومن جور الأديان إلى عدل الإسلام الذي شهد به عقلاء الأعداء ولا أطيل في مدح الإسلام ورسول الإسلام فإنه قد امتلأت به الدنيا وزخرت به المكتبات واختصر فأقول :
إن محمدًا رسول الله حقًا وصدقا أرسله الله رحمة للعالمين .
أرسله بشيراً ونذيراً وداعياً إلى الله وسراجاً منيراً .
جاء باحترام الأنبياء وكتبهم, بل جاء بحبهم والإيمان بهم وبكتبهم .
قال تعالى {آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ } . (البقرة 285)
وقال تعالى آمراً محمداً صلى الله عليه وسلم وأمته {قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ }. (البقرة 136)
وقال تعالى {قُلْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ } . (آل عمران 84 ).
جاء محمد صلى الله عليه وسلم بالعدل والإحسان ناهياً عن الفحشاء والمنكر والبغي {إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ } . (النحل 90 )
جاء بالجهاد لإعلاء كلمة الله وللقضاء على الكفر والشرك والفساد .
وقد سبقه إلى ذلك موسى عليه الصلاة والسلام وأنبياء بني إسرائيل من بعده .
وجاء بشرعية القصاص والحدود لحفظ الدين والأنفس والأعراض والأموال .
وقد سبقه إلى ذلك موسى وأنبياء بني إسرائيل من بعده, وذلك خير وإحسان وحفظ للأعراض والأموال .. الخ . ولإشاعة الأمن والأمان وجلب المصالح ودرء المفاسد .
ولا يصف محمداً ورسالته بالشر إلا كاذب كَفََّّار طاعن في موسى ورسالته وطاعن في الأنبياء بعده الذين كانوا يحكمون بالتوراة .
قال تعالى {إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُواْ مِن كِتَابِ اللّهِ وَكَانُواْ عَلَيْهِ شُهَدَاء فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ . وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأَنفَ بِالأَنفِ وَالأُذُنَ بِالأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ } . (المائدة 44-45) .
وقال تعالى {وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فِيهِ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ } . (المائدة 47)
وقد كفر اليهود والنصارى بالتوراة والإنجيل فلم يعملوا بما فيهما من عقائد وأحكام .
وكذبوا محمداً صلى الله عليه وسلم الذي جاء مصدقاً للأنبياء وكتبهم ومنها التوراة والإنجيل .
كفروا بمحمد وما تضمنته رسالته من تصديق للأنبياء جميعاً وتصديق لما في التوراة والإنجيل وما فيهما من عقائد وأحكام إلا ما نسخه الإسلام .
وحاربوه أشد الحرب ولا سيما أحبارهم ورهبانهم وبابواتهم كبراً وبطراً وحسداً وبغياً بعد أن حرفوا كتبهم وتلاعبوا بنصوصها وحولوا ما فيها من عقائد وتوحيد وإيمان إلى شرك وكفران وعطلوا ما فيها من أحكام !!
فإذا كان هذا موقفهم من كتبهم التي يدَّعون الإيمان بها فكيف يصعب عليهم الكفر بمحمد وبما جاء به من قرآن لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه ؟!
يا أهل الكتاب توبوا إلى الله توبة نصوحا واتبعوا محمداً الذي بشرت به كتبكم وبشر به عيسى عليه الصلاة والسلام حيث قال {وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ } . (الصف 6).
{
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ } . (آل عمران 64)
{
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ } (آل عمران 71 ) .
{
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجاً وَأَنتُمْ شُهَدَاء وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ } . (آل عمران 99)
يا من يُسمَّى ببابا الفاتيكان أَسْلِم تَسْلِم يؤتك الله الأجر مرتين فإن أبيت فإنما عليك إثم أتباعك من النصارى الأوربيين وغير الأوربيين .
أسلم وليسلم أهل ملتك, يدخلكم الله جنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين, أتباع الرسل الصادقين . آمِنْ بهذا القرآن العظيم الذي هيمن على كل الرسالات وجاء بالعقائد الصحيحة والأحكام العادلة التي تؤيدها العقول الراجحة والفطر السليمة .
آمن أنت وأتباعك بهذا القرآن الذي تضمن ما ذكرت لكم وبلغ مرتبة من الإعجاز لا يلحقه إعجاز مادي ولا معنوي .
تحدّى الله الجن والإنس أن يأتوا بمثله فعجزوا أن يأتوا بمثله, بل عجزوا أن يأتوا بعشر سور من مثله بل عجزوا أن يأتوا بسورة من مثله .
عجزوا وعجزوا وعجزوا ولو كان بعضهم لبعض ظهيراً .
وفي هذا وحده ما يدعوا البابوات وأتباعهم إلى الإيمان لو كان عندهم حظ من العقل والتعقل والإدراك والإنصاف .
أسلموا أيها البابوات تسلموا وتغنموا جنة عرضها السماوات والأرض, وإلا فأيقنوا بالعذاب الشديد الخالد من نار أعدها الله للكافرين, حرها شديد, وقعرها بعيد, قال تعالى في القرآن العظيم وكتابه الحكيم { إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلاسِلا وَأَغْلالاً وَسَعِيراً } . (الإنسان 4) .
وقال تعالى في كتابه العظيم {وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلاً إن لدينا أنكالا وجحيما وطعاما ذا غصة وعذابا أليما يوم يوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيباً مَّهِيلاً . إنا أرسلنا إليكم رسولا شاهداً عليكم كما أرسلنا إلى فرعون رسولا فعصى فرعون الرسول فأخذناه أخذا وبيلا} . (المزمل 11-14) .
أيها البابوات لا تغرنكم الحياة الدنيا ولا يغرنكم بالله الغرور, واعلموا أن أسلافكم قد حرفوا كتبكم وأفسدوا ملتكم وجعلوا من البشر آلهةً من دون الله وادعوا أن عيسى ابن الله أو ثالث ثلاثة تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا .
قال الله في كتابه الخالد المعجز المحفوظ من التحريف والتبديل ( قل هو الله أحد الله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد ) .
وقال تعالى في هذا الكتاب العظيم المعجز ( لقد جئتم شيئاً إدا تكاد السماوات يتفطرن منه وتنشق الأرض وتخر الجبال هدا أن دعوا للرحمن ولدا وما ينبغي للرحمن أن يتخذ ولداً إن كل من في السماوات والأرض إلا آتي الرحمن عبداً لقد أحصاهم وعدهم عدا وكلهم آتيه يوم القيامة فرداً ) . ( مريم 89-95)
يا أهل الكتاب ويا أيها البابوات لقد جاء كل الرسل بالتوحيد وحاربوا الشرك ومنهم عيسى عليه الصلاة السلام , قال تعالى {لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ } . (المائدة 72) .
فأمر عليه السلام بعبادة الله وحده وصرح بأن الله ربه ورب من خاطبهم وأُرْسِل إليهم, وأن من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار .
وقال تعالى {لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَـهٍ إِلاَّ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ } . (المائدة 73) .
فانتهوا أيها النصارى والبابوات عما حذركم الله من تأليه عيسى وغيره من المخلوقات وإلا فأنتم على الكفر والشرك, وجزاء ذلك أن يحرم الله عليكم الجنة وأن يجعل مأواكم النار .
ولا تغتروا بما وجدتم عليه أسلافكم وبابواتكم ورهبانكم فإنهم والله على الباطل والكفر ولقد حرفوا التوراة والإنجيل كما أسلفت لكم .
ولا تظنوا أن عيسى سيشفع لكم أو يدخلكم الجنة وينجيكم من النار؛ لأن هذا ليس بيده, ولأنكم قد خالفتموه وخالفتم عقيدته عقيدة التوحيد واتخذتموه إلها وهو يُكفّر من بفعل ذلك وسيتبرأ منكم ومن ضلالكم ومن اتخاذكم إياه وأمه إلهين من دون الله .
قال تعالى {وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ . مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ . ِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } ( المائدة 116-118 ) .
فهذا عيسى يتبرأ من عقيدة النصارى واعتقادهم الباطل فيه وفي أمه أنهما إلهان من دون الله , ويصرح أمام الله أنه ما أمر الناس إلا بما أمره به ربه ( أن اعبدوا الله ربي وربكم ), فالله ربه ورب الناس وأنه من المستحيل أن يدّعي لنفسه ولأمه الإلهية وأن يأمر الناس بالشرك بالله .
فإن كذبتم بما تضمنه هذا الخطاب من حقائق وحاججتم وجادلتم في ذلك فإنني أدعوكم إلى المباهلة كما أمر الله رسوله الصادق الأمين فقال له {فَمَنْ حَآجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْاْ نَدْعُ أَبْنَاءنَا وَأَبْنَاءكُمْ وَنِسَاءنَا وَنِسَاءكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ } (آل عمران 61)
ولي ولكل مسلم في ذلك أسوة حسنة بمحمد صلى الله عليه وسلم .
والسلام على من اتبع الهدى .

SYARI’AT ISLAM PERLU DI REVISI ?!!!!

•1 April, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Soal :

Seorang laki-laki telah menyatakan bahwasanya sebagian hukum-hukum syar’i yang telah Allah syari’atkan perlu untuk ditinjau kembali. Dan menurutnya pula bahwa sebagian hukum-hukum dalam syari’at Islam ini masih perlu untuk diluruskan/dibetulkan (karena mengandung unsur ketidakadilan). Hal ini karena keberadaan hukum-hukum syar’i tersebut tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman sekarang.

Contohnya dalam hukum harta warisan, dimana seorang laki-laki mendapatkan harta warisan dua kali lebih banyak dari yang didapatkan seorang wanita (wanita mendapatkan harta warisan setengah dari yang didapatkan pihak laki-laki). Maka apa hukum syar’i bagi orang yang mengatakan hal seperti ini?

Jawab :

Hukum-hukum dalam syari’at Islam, yang telah Allah (Subhanahu wa Ta’ala) syari’atkan kepada hamba-hambaNya dan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah menjelaskannya di dalam kitab-Nya yang mulia (Alqur’an), atau hukum-hukum syar’i yang telah Allah (Subhanahu wa Ta’ala) syari’atkan dan jelaskan melalui lisan Rasul-Nya yang terpercaya Muhammad (Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam), seperti hukum-hukum yang berkaitan dengan harta warisan, hukum tentang sholat 5 waktu, hukum tentang zakat dan puasa serta hukum-hukum yang lainnya dari hukum-hukum yang telah Allah (Subhanahu wa Ta’ala) terangkan kepada para hamba-Nya, dan umat Islam semuanya telah bersepakat di atas hukum-hukum tersebut, tidak ada seorangpun dari kalangan kaum muslimin yang membantah/menolak hukum-hukum tersebut dan mengadakan perubahan/peninjauan kembali atasnya.
Hal ini karena hukum-hukum itu disyari’atkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) untuk menghukumi/memutuskan dengan jelas semua perkara-perkara yang terjadi pada umat Islam di zaman Nabi (Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam) dan berlaku pula bagi umat Islam setelah zaman beliau (Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam) sampai tegaknya hari kiamat.

Dan termasuk dari hukum Islam yaitu dilebihkannya kaum laki-laki atas kaum wanita dalam hukum waris dan karena Allah Ta’ala telah menerangkan dengan jelas tentang hukum waris tersebut dalam kitab-Nya yang mulia, dan para ‘ulama kaum muslimin telah bersepakat atas hukum tersebut. Maka wajib untuk mengamalkan hukum waris itu dengan penuh keyakinan dan keimanan.

Dan barang siapa yang menyangka/menganggap bahwa suatu keadaan/zaman akan menjadi lebih baik dengan menyelisihi/meninggalkan hukum-hukum syar’i yang telah Allah turunkan maka orang seperti ini dihukumi kafir.

Dan demikian pula, barang siapa yang setuju/mengizinkan untuk menyelisihi/meninggalkan hukum-hukum syar’i yang telah Allah (Subhanahu wa Ta’ala) syari’atkan, maka orang seperti ini dianggap kafir. Karena dia telah menentang/membantah perintah Allah Ta’ala, demikian juga perintah Rasul-Nya (Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam) dan kesepakatan kaum muslimin.

Dan bagi waliyyul ‘amr (pemerintah) agar menyuruh/memerintahkan orang itu untuk bertaubat dari perkataannya dan menarik kembali kata-katanya, jika dia awalnya seorang muslim. Jika dia bertaubat maka diampuni. Dan jika dia tetap tidak mau bertaubat maka wajib bagi pihak pemerintah untuk membunuhnya karena dia telah kafir, murtad dari Islam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi (Shallallahu ‘alayhi wa alihi wa sallam) (artinya): “Barang siapa yang mengganti/mengubah agamanya (murtad) maka bunuhlah dia.” (H.R. Bukhori)

Kita meminta kepada Allah keselamatan bagi kita dan seluruh kaum muslimin dari fitnah-fitnah yang menyesatkan serta dari menyelisihi hukum-hukum syari’at-Nya yang suci.

Disadur dari : Majalah Ad da’wah no.1149 (27/11/1408 H)
Diterjemahkan oleh Al Akh Abu Sulaiman dari ’Fataawa wa Maqaalat bin Baaz’, Muraja’ah Oleh Abu’Isa Nur Wahid.